Internet sudah menjadi bagian kehidupan yang tidak pernah bisa dilepaskan dari keseharian kita semua. Coba diingat-ingat, berapa lama waktu yang kita habiskan dalam satu hari untuk menatap layar handphone atau komputer? Berdasarkan data dari Digital 2022 April Global Statshot Report yang dirilis oleh We Are Social dan Hootsuite, rata-rata manusia di dunia menghabiskan waktu 413 menit atau hampir tujuh jam dalam sehari untuk mengakses internet. Bahkan mungkin generasi yang lebih muda seperti Gen Z atau Gen Alpha bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi dari sekadar tujuh jam tersebut.
Menakjubkan jika kita melihat perkembangan internet dari era 90an hingga saat ini yang terasa begitu pesat. Masih ingatkah Anda betapa berisiknya bunyi modem yang perlu kita nyalakan untuk dapat terhubung ke internet di masa lampau? Atau masih ingatkah berapa lama waktu yang Anda perlu habiskan hanya untuk mengunduh sebuah dokumen? Dengan perkembangan internet, saat ini semuanya hadir secara instan dan tanpa repot.
Izinkan saya mengajak Anda untuk mundur sedikit ke beberapa puluh tahun sebelum masa kita saat ini dan mengenal awal mula internet – atau yang bisa kita sebut sebagai web 1.0 Meski teknologi jaringan antar komputer sesungguhnya telah ada sejak 1960 an, namun internet baru dikomersialisasikan untuk umum pada era 90an – di situlah revolusi informasi teknologi kita dimulai. Pada masa web 1.0, umumnya internet dipenuhi oleh situs web statis yang dimiliki oleh perusahaan dan hampir tidak ada interaksi antara penggunanya atau dikenal sebagai read-only web. Pada masa itu fungsi internet memang lebih banyak digunakan untuk mencari informasi atau sebagai sumber referensi.
Tuntutan dari pengguna untuk bisa berinteraksi lebih dengan informasi di internet akhirnya menuntun pada pengembangan web 2.0 yang ditandai dengan kemunculan user-generated content seperti blog dan pada akhirnya berkembang menjadi media sosial. Transformasi internet ini dimulai sejak 2004 dan masih berlangsung hingga saat ini. Web 2.0 memiliki karakteristik yang lebih interaktif dan partisipatif di mana cara kita mengakses informasi telah berubah menjadi dua arah dan kita dapat memperkaya isi dari suatu situs atau media web. Jika sebelumnya internet bersifat read-only, di era ini internet telah menjadi read-write.
Di era web 2.0 ini, perusahaan-perusahaan tidak hanya menyediakan konten bagi pengguna, namun mereka juga mulai menyediakan platform – berupa situs atau aplikasi – yang dapat digunakan pengguna untuk berbagi konten dan terlibat interaksi dari pengguna-ke-pengguna. Di era ini pula lah, perusahaan teknologi mulai memiliki pengaruh besar dalam masyarakat karena mereka dapat mengatur nilai yang dihasilkan oleh sebuah platform yang pada akhirnya mengantarkan pada sistem sentralisasi internet di mana semuanya dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar.
Dalam web 2.0, perusahaan teknologi besar pun mendapat banyak sorotan karena dianggap melakukan monopoli dalam layanan internet. Contohnya saja saat kita sebagai pengguna media sosial mengunggah foto. Walaupun foto yang telah kita unggah adalah foto pribadi kita tapi ketika sudah berada di media media maka kepemilikan aset tersebut bukanlah milik kita melainkan milik perusahaan teknologi. Bisa dikatakan kita tidak memiliki aset apapun di internet karena adanya sentralisasi tersebut. Berangkat dari permasalahan ini maka muncul gerakan-gerakan yang menginginkan revolusi terbaru di dunia internet sehingga menciptakan perkembangan terbaru menuju generasi ketiga atau web 3.0.
Web 3.0 akan menjawab permasalahan mengenai sentralisasi dan monopoli dari perusahaan teknologi besar karena sistem web terbaru ini akan dibangun di atas jaringan blockchain yang menjadikan hosting data terdistribusi dan kendali atas platform dikembalikan kepada pengguna. Singkatnya: desentralisasi.
Selanjutnya, web 3.0 juga akan didukung oleh metaverse sebagai platform internet terbaru. Metaverse dipandang sebagai evolusi dari cara ataupun medium bagi kita dalam menikmati konten. Kalau mengingat sejarah bagaimana kita bisa mengakses konten, semua bermula dari televisi yang lalu berkembang ke medium baru seperti komputer dan ponsel pintar. Konten yang dihadirkan pun berkembang; mulai dari konten satu arah yang ditampilkan oleh televisi menuju konten interaktif di komputer dan ponsel. Metaverse dan web 3.0 akan mengubah semuanya. Interaktivitas akan semakin imersif dan tampilan yang disampaikan pun akan berubah dari dua dimensi menuju tiga dimensi. Inilah yang disebut sebagai frameless future atau masa depan tanpa bingkai di mana batasan antara kita sebagai pengguna dan informasi sebagai konten telah tiada.
Kami sendiri di WIR Group telah membangun infrastruktur menuju frameless future selama 12 tahun dengan memfokuskan pada pengembangan Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), Artificial Intelligence (AI) dan metaverse yang merupakan sebuah interaksi masa depan internet dalam bentuk 3D. Mungkin Anda akan menanyakan: “Kenapa masa depan ada di konten tiga dimensi?” Studi menyebutkan bahwa mata manusia terbiasa dengan segala sesuatu yang bersifat riil atau nyata sehingga kedepannya konsumen atau pengguna internet akan selalu menuntut konten untuk dapat hadir dalam wujud tiga dimensi.
Perjalanan menuju web 3.0 dan metaverse yang sempurna memang masih panjang. Namun saya yakin kita bisa mencapainya tidak lama lagi. Butuh kesabaran dan andil dari semua pihak termasuk akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media, dan seluruh masyarakat untuk bisa mewujudkannya. Jadi, siapkah Anda masuk ke era baru?
